-JAKARTA - Calon Wakil Presiden Wiranto menegaskan, Ibu Pertiwi tidak boleh lagi berduka karena bangsa Indonesia telah kehilangan jati dirinya. Kondisi bangsa Indonesia pada saat ini, menurut Wiranto saat menyampaikan visinya dalam acara debat Cawapres di Jakarta, Selasa [23/06] malam, sangat memprihatinkan dan bahkan bangsa ini tidak tahu dirinya siapa.
Ditegaskannya bahwa saat ini telah terjadi degradasi luar biasa dan Pancasila sebagai falsafah bangsa semakin jarang terucapkan. Selain itu, katanya lagi, Indonesia juga terkenal sebagai bangsa pengutang hingga terlecehkan oleh negara tetangga dalam kasus Ambalat.
“Kondisi seperti ini tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus ada perubahan,” ujar Wiranto seraya menegaskan bahwa salah satu solusinya adalah harus ada kepemimpinan bangsa yang kuat dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Karenanya pula, menurut Wiranto, dirinya bersama Capres Jusuf Kalla mempunyai visi bangsa Indonesia yang berdaya saing, mandiri dan bermartabat sebagai cerminan jati diri bangsa.
Saat mengakhiri pidato, ia mengutip sebait syair lagu “Ibu Pertiwi”. “Jangan biarkan Ibu Pertiwi berduka sepanjang masa,” ujarnya. Di awal pidatonya, Wiranto juga mengutip sebait syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Dikatakan Wiranto bahwa membangun jiwa dan badan bangsa Indonesia merupakan satu kesatuan yang utuh dalam membentuk jati diri bangsa.
Debat cawapres putaran pertama yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta itu mengambil tema “Pembangunan Jati Diri Bangsa” serta dipandu moderator Komarudin Hidayat, Rektor UIN Jakarta.
Saat sesi tanya jawab, Wiranto diantaranya menyampaikan bahwa akar masalah sejumlah persoalan bangsa seperti konflik dan kesenjangan sosial ada pada tidak terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat.
Karenanya, menurut dia, solusinya adalah membangun perekonomian yang lebih memihak dan memberdayakan rakyat.
Menjawab pertanyaan seputar maraknya kecelakaan transportasi saat ini, Wiranto mengatakan bahwa kecelakaan yang berulang kali itu tidak bisa lagi disebut sekedar musibah, tetapi karena tidak adanya kepedulian mereka-mereka yang seharusnya bertanggungjawab. ”Kalau kecelakaan itu sekali (namanya) musibah. Dua kali kelalaian dan lebih dari dua kali ketidak pedulian,” ujarnya seraya mendapat aplaus mereka yang hadir.
Pemerintah, ujarnya, tidak bisa lepas tangan begitu saja atas semua kejadian itu karena konstitusi mengamanatkan negara untuk melindungi tumpah darah bangsa Indonesia. Untuk mengatasinya, menurut Wiranto, harus ditegakkan secara konsisten sistem “reward and punishment” dan ia pun akan mengusulkan digalakkannya kembali Gerakan Disiplin Nasional secara menyeluruh.
Tentang hubungan agama dengan negara, Wiranto sempat berbeda pendapat dengan Cawapres Boediono yang dinilainya masih memaparkan hal-hal yang bersifat normatif sehingga dalam tataran praktisnya justru membingungkan.
Boediono berpendapat bahwa agama harus ditempatkan pada posisi yang terhormat dan terpisah dengan dunia politik.
Sementara Wiranto menilai, walaupun agama ditempatkan pada posisi mulia, tetapi substansi dari nilai-nilai agama itu harus bisa diimplementasikan dalam kehidupan politik. Dengan demikian, kata Wiranto, etika dan kesantunan menjadi hal yang dijunjung tinggi dalam praktek berpolitik. “Jadi tidak akan ada bohong, tega dan nipu,” ujar Wiranto dan kembali mendapat sambutan tepuk tangan hadirin. (sihc/sbsc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih