coia

Menu

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19
Anda memiliki kepedulian pada wartawan kami yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19)? Salurkan kepedulian dan kasih Anda dengan mengirimkan donasi ke * BANK BCA NO REKENING 2291569317 * BANK BNI NO REKENING 0428294880 * BANK BRI NO REKENING 0539-01-008410-50-1 Semoga Tuhan YME membalas dengan rezeki yang bertambah.

Pencarian

Rabu, 17 Juni 2009

Mustahil, Elektabilitas SBY-Boediono 71 Persen

* PRESIDENTIAL *
-JAKARTA - Mustahil tingkat keterpilihan (elektabilitas) pasangan capres-cawapres SBY-Boediono mencapai 71 persen sebagaimana dirilis sejumlah lembaga survei.

Demikian disampaikan pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Effendi Ghazali. Menurut hitungannya, tingkat elektabilitas maksimal pasangan ini hanya sekitar 51,7 persen. Dari mana angka elektabilitas tersebut?

Effendi mengatakan, angka itu diperoleh dari dua kali jumlah perolehan suara Partai Demokrat dalam pemilu legislatif lalu ditambah 10 persen. Jumlah perolehan suara Demokrat dalam pileg lalu 20,85 persen. Jika dikali dua menjadi 41,7 persen.

Dikali dua, menurut Effendi, karena faktor dominan kemenangan Demokrat dalam pileg kemarin adalah figur SBY. Angka 10 persen adalah angka moderat untuk dukungan yang diperoleh berdasarkan ajakan elite parpol dan juga parpol pendukung terhadap konstituennya.

"Itu juga dengan asumsi pasangan lain itu diam-diam saja, tidak bergerak," tutur Effendi dalam rilis survei Soegeng Sarjadi Syndicate "Pilpres: Satu Putaran vs Dua Putaran" di Hotel Four Seasons, Jakarta, Sabtu (13/6).

Oleh karena itu, menurut Effendi, mustahil jika pilpres berlangsung hanya dalam satu putaran jika penurunan tingkat elektabilitas terus terjadi dan pasangan lain terus bergerak dengan aktif. "Maka ya, pemilu ini nantinya cenderung dua putaran," tandas Effendi.

Namun, Effendi juga mengingatkan bahwa seserius dan seindependen apa pun survei-survei yang dilakukan, hasilnya juga akan sangat tergantung pada daftar pemilih tetap (DPT). Pasalnya, survei-survei ini dilakukan atas acuan sebaran daftar pemilih sementara (DPS) dan pemilih di atas 17 tahun.

"Kenapa? Menurut saya, barangkali tidak ada orang lain yang tahu DPT nanti seperti apa kecuali Tuhan dan mereka yang mengurusnya. Jadi mungkin saja Anda melakukan survei-survei, tapi nanti hasilnya meleset karena DPT-nya berbeda," ujar Effendi. (sihc/skoc) ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih

BERKARYA UNTUK BANGSA & NEGARA

Situs KIta CInTA (Kita Cinta Tanah Air) Indonesia kami persembahkan untuk masyarakat Indonesia yang cinta tanah air dimana pun berada. Kami menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini. Baik itu tulisan maupun foto tentang pejabat partai, daerah, negara termasuk ativitas partai, pemerintahan mulai dari Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Juga segala kegiatan yang berkaitan dengan kenegaraan. Caranya, kirim karya tulis atau foto Anda ke e-mail: aagwaa@yahoo.com.

Komentar Anda