-JAKARTA — Kunjungan dan dialog yang dilakukan oleh pasangan capres JK-Wiranto ke Kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sore ini, Selasa (9/6), harus dimaknai sebagai upaya untuk terus membangun komunikasi dalam semangat persaudaraan yang menjunjung tinggi kebinekaan.
Bertolak dari pandangan tersebut di atas, Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (Forkoma PMKRI) Hermawi Taslim menyambut baik segala bentuk komunikasi yang ingin dibangun oleh para capres dengan KWI yang merupakan Forum Uskup-Uskup Katolik se-Indonesia.
Selanjutnya, Taslim mengimbau agar semua pihak khususnya media massa tidak memberi penafsiran yang berlebihan terhadap dialog tersebut karena sesungguhnya KWI adalah merupakan institusi yang senantiasa terbuka untuk berkomunikasi dengan pihak mana pun. Forkoma PMKRI berharap agar pasangan capres yang lain, Mega-Pro dan SBY-Boediono, dapat pula melakukan langkah yang sama untuk berdialog dengan KWI.
Bukan ormas
Lebih lanjut Taslim menjelaskan, KWI bukanlah ormas melainkan sebuah forum komunikasi antar-Uskup se-Indonesia. Dengan demikian, KWI bukan merupakan pimpinan tertinggi umat Katolik Indonesia. "Sekali lagi KWI hanyalah sebuah forum," ujar Taslim. Sedangkan pimpinan umat Katolik Indonesia adalah masing-masing Uskup yang bertanggung jawab langsung kepada Vatikan.
Mengenai dukungan terhadap capres tertentu, Taslim mengatakan, baik KWI maupun masing-masing para Uskup tidak memiliki tradisi untuk dukung-mendukung dalam semua aktivitas politik praktis, baik pilpres, pemilu legislatif, dan pilkada-pilkada.
Aktivitas politik praktis bukan merupakan wilayah KWI, melainkan merupakan aktivitas umat yang lazim disebut sebagai Kerasulan Awam. Dalam konteks ini, setiap individu (awam) Katolik bebas dalam menentukan aktivitas dan orientasi politiknya tanpa mengatasnamakan lembaga/institusi Katolik.
"KWI dan Uskup-Uskup senantiasa memberikan dukungan moril kepada setiap umat Katolik yang menekuni aktivitas politik, agar tetap berpegang teguh kepada landasan moral yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh Konsili Vatikan ke-2," ujarnya.
Dalam menghadapi Pilpres 2009, umat Katolik tersebar hampir merata di 3 kubu kandidat, dan hal tersebut sesuatu yang biasa karena sekali lagi, aktivitas politik sepenuhnya menjadi tugas awam yang bebas memberikan dukungan sesuai dengan pilihan dan hati nuraninya, atau dalam kalimat yang sederhana sering disebut sebagai “Satu Dalam Iman, Bhineka Dalam Aksi”.
Taslim berharap agar umat Katolik Indonesia tetap menjaga kesatuan iman meskipun dengan pilihan politik yang berbeda, menggunakan hak pilih penuh pertimbangan sebagai warga negara yang bertanggung jawab. "Umat Katolik Indonesia harus terus membangun semangat sebagaimana yang pernah dipesankan oleh Uskup Agung Mgr Albertus Soegijapranata: 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia," katanya. (sihc/skoc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih