-JAKARTA - Capres Megawati Soekarnoputri dan cawapres Prabowo Subiyanto mengangkat tangan mereka saat deklarasi pasangan tersebut di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat,Minggu (24/5). Calon presiden Megawati Soekarnoputri dan calon wakil presiden Prabowo Subianto menyerukan agar masyarakat Indonesia menanamkan budaya nasionalisme sejak dini kepada penerus bangsa.
"Sebenarnya pendidikan dasar di Indonesia harus mengajarkan nasionalisme dulu, setelah itu baru ilmu-ilmu berhitung," kata Megawati saat berdialog dengan para budayawan di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu.
Megawati menambahkan, pendidikan yang utama adalah sejak usia dini, terutama pendidikan dalam keluarga.
Ia mencontohkan pendidikan di Jepang yang mengajarkan budaya bangsa pada siswa-siswa sekolah dasar. "Untuk berhitung dan ilmu lainnya, sekolah melibatkan orang tua untuk mengajari anak mereka masing-masing," kata Megawati.
Calon pemimpin yang ideal, menurut Megawati, adalah orang yang mampu mengawal dan memberi petunjuk arah ke mana bangsa ini akan dibawa.
Sementara itu, cawapres Prabowo Subianto mengatakan, pengalaman sejarah yang panjang seharusnya mendidik warga negara untuk semakin mencintai Indonesia.
"Indonesia adalah bangsa yang naif dan terlalu lugu sehingga mudah dirayu bangsa lain untuk menyerahkan aset budaya dan sumber daya alamnya," ujar Prabowo.
Capres dan cawapres dari PDIP dan Partai Gerindra itu juga menyinggung tentang bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia.
Prabowo mengatakan bahwa bahasa merupakan kekayaan bangsa Indonesia, maka tidak seharusnya kita malu memakainya.
Bahasa, menurut dia, tidak hanya bahasa lisan dan tulisan, namun lebih pada bahasa budaya. "Bangsa kita sejak dulu memang diajarkan sopan santun, namun bukan berarti harus tunduk pada bangsa lain," kata Prabowo.
Ia menambahkan, anak-anak harus dibiasakan kritis terhadap situasi, sehingga mempunyai pandangan yang luas untuk menilai dunia sekitarnya.
Dalam nasionalisme juga terdapat nilai-nilai demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia. "Nasionalisme dan demokrasi dapat diwujudkan dengan mengkritisi kebijakan yang buat pemerintah, apabila kebijakan tersebut tidak sesuai dengan kepentingan publik," kata Prabowo.
Menurut dia, bangsa Indonesia jangan sampai mempunyai mental kalah, yaitu menerima apapun juga tanpa mengkajinya lebih jauh.
Sementara itu, budayawan Radhar Panca Dahana mengatakan bahwa pendidikan bahasa harus ditanamkan sejak kecil, termasuk bahasa pemersatu dan bahasa budaya. "Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan, namun bukan satu-satunya bahasa di Indonesia," kata Radhar saat menjelaskan pentingya mengenal bahasa daerah.
Pendidikan, menurutnya, harus didasarkan pada pendidikan bahasa. Ia menekankan bahwa bahasa adalah kekuasaaan, terutama oleh media, penguasa atau pimpinan negara, sehingga sejak dini harus diajarkan.
"Anak didik harus diberi tahu mengenai bahasa, fungsinya serta penggunaannya secara baik dalam bangsa yang bhineka ini," kata Radhar menambahkan.
Mengenai mental kalah, Radhar mengingatkan, agar generasi muda tidak mudah mengadopsi budaya asing yang belum tentu cocok dengan bangsa Indonesia. "Saat kita terpengaruh dengan budaya asing yang negatif, saat itulah kita kalah," kata Radhar.(sihc/sadc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih