coia

Menu

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19
Anda memiliki kepedulian pada wartawan kami yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19)? Salurkan kepedulian dan kasih Anda dengan mengirimkan donasi ke * BANK BCA NO REKENING 2291569317 * BANK BNI NO REKENING 0428294880 * BANK BRI NO REKENING 0539-01-008410-50-1 Semoga Tuhan YME membalas dengan rezeki yang bertambah.

Pencarian

Jumat, 29 Mei 2009

Mega: Pemberantasan Korupsi Jangan Tebang Pilih

* PRESIDENTIAL *
-JAKARTA — Capres Megawati Soekarnoputri ditanyakan pendapatnya mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia. Pertanyaan yang diajukan advokat senior, Todung Mulya Lubis, dilontarkan pada acara Ring Politik di Hotel Crowne Plaza, Jakarta Selatan, Kamis (28/5).

Menjawab pertanyaan itu, Mega melihat, pemberantasan kasus korupsi masih tebang pilih. "Pemberantasan korupsi memang harus dijalankan. Tapi jangan tebang pilih. Saya merasakan masih ada tebang pilih, dan rasa kegelisahan. Orang enggak salah kok disalah-salahkan," kata Mega.

Mega juga mengingatkan, banyaknya kasus korupsi yang tidak diselesaikan secara hukum dan menguap begitu saja. Oleh karena itu, menurutnya, perlu penguatan di level peradilan (yudikatif).

"Di suatu negara kan ada 3 unsur, yaitu eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam proses hukum, kan, ada kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Yang terpenting, apakah negara kita sudah melek hukum?" ujar Mega.

"Seluruh warga negara harus patuh pada hukum," lanjutnya.

Kebebasan Pers

Calon presiden Megawati Soekarno Putri mengatakan kebebasan pers di Indonesia harus sesuai budaya timur.

Meski telah memiliki undang-undang sendiri, "namun pers haruslah berjalan sesuai dengan kultur budaya timur," ujarnya saat menghadiri acara bincang-bincang salah satu televisi swasta, di Hotel Crowne, Kamis (28/5).

Megawati juga mempertanyakan kebebasan pers. "Permasalahannya kebebasan pers itu mau seperti apa, sebebas apa?" Acara infotainment, kata Mega memberi contoh, banyak menayangkan informasi yang tidak sesuai kultur Indonesia.

Menurut dia, dengan adanya kode etik jurnalistik kegiatan pers harusnya lebih bermoral dan sesuai aturan. "Jadi tidak perlu lagi budaya telepon," katanya. (sihc/skoc/stic) ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih

BERKARYA UNTUK BANGSA & NEGARA

Situs KIta CInTA (Kita Cinta Tanah Air) Indonesia kami persembahkan untuk masyarakat Indonesia yang cinta tanah air dimana pun berada. Kami menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini. Baik itu tulisan maupun foto tentang pejabat partai, daerah, negara termasuk ativitas partai, pemerintahan mulai dari Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Juga segala kegiatan yang berkaitan dengan kenegaraan. Caranya, kirim karya tulis atau foto Anda ke e-mail: aagwaa@yahoo.com.

Komentar Anda