coia

Menu

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19
Anda memiliki kepedulian pada wartawan kami yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19)? Salurkan kepedulian dan kasih Anda dengan mengirimkan donasi ke * BANK BCA NO REKENING 2291569317 * BANK BNI NO REKENING 0428294880 * BANK BRI NO REKENING 0539-01-008410-50-1 Semoga Tuhan YME membalas dengan rezeki yang bertambah.

Pencarian

Jumat, 21 November 2008

Sutiyoso: Jangan Pilih Pemimpin Karbitan

* PRESIDENTIAL *
-JAKARTA - Bakal calon presiden (Capres) Sutiyoso menyatakan bahwa pascareformasi, pemimpin negara yang dilahirkan adalah pemimpin karbitan. Menurut dia, jangan dipilih pemimpin seperti itu, karena ketika memimpin, mereka tidak siap dan gelagapan.

Hal itu disampaikan Sutiyoso, Kamis [20/11] di Jakarta.Ia beralasan, lahirnya pemimpin karbitan itu dikarenakan tidak berjalannya kaderisasi kepemimpinan. Artinya, pemimpin yang berkuasa keenakan duduk di singgasananya dan melupakan kaderisasi. Padahal, imbuh dia, kaderisasi merupakan proses pembangunan bangsa.

“Kalau kaderisasi berjalan, begitu lengser sudah ada kader penggantinya,” kata Bang Yos, sapaan capres yang dicalonkan Partai Indonesia Sejahtera (PIS) itu.

Dijelaskannya, dengan tidak adanya kaderisasi, maka yang lahir justru pemimpin yang gagap dan tidak berkualitas dan tidak teruji sebagai pemimpin.Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, selama ini dirinya melaksanakan kaderisasi selama dia memimpin baik di dunia militer, organisasi maupun ketika menjadi orang nomor satu di Jakarta.

“Saya melakukan hal itu ketika saya menjadi Ketua Perbakin, Ketua Perbasi, Ketua PBSI dan Gubernur DKI Jakarta. Semua yang menjadi pengganti saya adalah kader yang telah dibina,” ujarnya.Mantan Pangdam Jaya itu juga menyebut dirinya tidak gila kekuasaan.

Dia mencatat, selama memimpin organisasi apapun, termasuk yang strategis sekalipun, hanya satu periode saja. Memang dia mengakui, dalam kaderisasi ada pemimpin yang berhasil melanjutkan program yang sudah digariskan, bahkan ada yang tidak mampu. “Kalau ada kader yang sudah disiapkan tidak berhasil itu hal yang wajar. Tapi yang penting kaderisasi sudah dijalankan,” ujarnya.

Ditanya mengapa dalam memerintah di DKI Jakarta diamau menjadi Gubernur selama dua periode? Bang Yos mengatakan, dia bersyukur bisa melaksanakan tugasnya dengan sukses sebagai gubernur selama satu periode. Namun ketika hendak meninggalkan jabatan tersebut, dia diminta kembali untuk menjadi Gubernur untuk kedua kalinya.

“Saya pun melanjutkannya dengan tujuan melaksanakan beberapa hal yang belum bisa diselesaikan dalam satu periode. Terbukti kebanyakan program Pemda berhasil, termasuk menjadikan APBD DKI Jakarta yang awalnya hanya Rp 1,7 trilun menjadi Rp 20 triliun di akhir masa jabatan saya,” tegasnya.

Karenanya, Bang Yos berjanji kalau terpilih menjadi presiden 2009, kabinetnya akan diisi oleh orang-orang muda yang memiliki rekam jejak yang mumpuni. “Kalau kaderisasi berjalan, para pembantunya itu bisa langsung dapat menggantikannya begitu masa jabatannya sebagai presiden berakhir,” pungkasnya. (sihc/sbsc) ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih

BERKARYA UNTUK BANGSA & NEGARA

Situs KIta CInTA (Kita Cinta Tanah Air) Indonesia kami persembahkan untuk masyarakat Indonesia yang cinta tanah air dimana pun berada. Kami menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini. Baik itu tulisan maupun foto tentang pejabat partai, daerah, negara termasuk ativitas partai, pemerintahan mulai dari Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Juga segala kegiatan yang berkaitan dengan kenegaraan. Caranya, kirim karya tulis atau foto Anda ke e-mail: aagwaa@yahoo.com.

Komentar Anda