-Ternyata, Hidayat Nurwahid tak senang digadang-gadang sebagai Cawapres di media massa, sehingga dalam satu kesempatan di Sulawesi kemarin, Ketua Dewan Suro, mantan Presiden PKS itu menyatakan kesediaannya sebagai Capres. Berarti, semakin ramai saja Capres bermunculan di media massa, namun siapa yang layak dijual? Hal ini masih menjadi tanda tanya besar.
Lima bulan menjelang Pemilu legislatif kita melihat segala kemungkinan masih mungkin terjadi. Artinya, Capres usia muda dan usia tua yang terkesan itu ke itu juga, masih tetap berpeluang. Sayangnya, sangat minim survei dilakukan, apakah Capres usia muda sudah layak memimpin bangsa Indonesia ke depannya.
Dari Capres yang sudah muncul dan menurut hemat kita punya peluang adalah Susilo Bambang Yiudhoyono selaku ’’incumbent’’, menyusul Megawati. Pamor keduanya cukup menonjol di masyarakat, khususnya pendukung partai masing-masing.
Menyusul dengan sudah mencalonkannya Hidayat Nurwahid, namun kans Hidayat terpulang dari hasil Pemilu tahun depan. Kalau suara PKS naik signifikan maka dia punya peluang sebagai Capres usia muda untuk mengikuti jejaklCapres skulit hitam Amerika serikat, Barack Husein Obama. Begitu juga dengan Prabowo Subianto.
Lantas bagaimana dengan Capres yang tergolong ’’old crack’’ seperti Jusuf Kalla, Gus Dur, Amien Rais? Sudah pasti lebih berat. Meskipun Jusuf Kalla masih menjabat Wapres tapi untuk bisa naik kelas sebagai Capres kansnya relatif kecil. Mengapa? Tidak lain karena dia bukan asal Jawa.
Jangan samakan dengan Barack Huseion Obama yang kulit hitam tapi bisa menyihir warga kulit putih, sebab permasalahan di Amerika berbeda sekali dengan di Indonesia. Oleh karena itu, kans Jusuf Kalla terbesar tetaplah menjadi ’’solmite’’ dengan SBY sebagai orang kedua alias RI-2 saja, meskipunh Golkar tetap memenangkan Pemilu mendatang.
Apalagi kalau saja Golkar salah membuat putusan, misalnya sampai memecat Sri Sultan karena sepihak mencalonkan diri sebagai Capres sehingga publik menilai Gubernur DI Yogyakarta itu terzalimi, besar kemungkinan publik bersimpati padanya. Begitu juga tokoh-tokoh lainnya, seperti Wiranto, Prabowo, Sutiyoso, Akbar dll bisa saja berharap dizalimi pihak penguasa agar namanya menjadi populer karena berdasarkan pengalaman Mega dan SBY menjadi besar karena sudah melewati fase penzaliman. Mega dizalimi rezim Soeharto, sedangkan SBY ’’dizalimi’’ rezim Megawati/Taufik Kiemas.
Dalam kondisi normal memang sulit untuk mengalahkan popularitas SBY di mata publik berdasarkan survei sehingga walaupun partainya (Demokrat) tidak menang dalam Pemilu legislatif, namun dalam Pilpres peluangnya cukup besar. Kans SBY hanya mungkin dikalahkan bila PDIP dan Golkar bersatu.
Walaupun masing-masing Parpol umumnya masih menunggu hasil Pemilu legislatif April tahun depan, namun secara garis besar publik sudah mengetahui dari berbagai pemberitaan bahwa saat ini sudah hampir pasti Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri bakal maju dalam final Pilpres 2009. Capres usia muda belum banyak yang layak jual.
Justru itu, Pilpres 2009 sangat berat buat tokoh-tokoh yang bukan dari Parpol. Termasuk Capres usia muda. Tak terkecuali buat Sri Sultan, Hidayat Nurwahid, Prabowo dll. Sebab, calon alternatif harus dapat meyakinkan para elite Parpol dan jumlahnya cukup banyak.
Masalahnya, Parpol besar sudah mengusung Capres sendiri, termasuk Jusuf Kalla diperkirakan masih tetap berpasangan dengan SBY, jadi Cawapres. Sehingga tinggal Parpol menengah dan Parpol kecil saja yang memungkinkan, berkoalisi untuk mengusung Capres satu Capres alternatif tersisa, siapa dia?. (sihc/sbsc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih