-JAKARTA - Mundurnya Rizal Mallarangeng dari bursa calon presiden 2009 menunjukkan sikap tahu diri tokoh muda yang ingin bersaing pada Pilpres 2009. Karena, menurut hitung-hitungan matematis dan politis, pada pilpres nanti hanya pasangan SBY-JK dan Megawati beserta cawapresnya yang bisa bertarung. Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri masih mempunyai tingkat keterpilihan yang tinggi.
Demikian dikemukakan pengamat politik dari UI, Arbi Sanit, dan Ketua DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu alias Burnap menanggapi mundurnya Rizal Mallarangeng dari bursa calon presiden (capres), di Jakarta, Kamis (20/11).
Menurut Burnap, mundurnya Rizal Mallarangeng merupakan sikap yang tepat dan perlu ditiru calon-calon presiden lain yang sesunguhnya tidak memiliki modal cukup untuk menjadi pemimpin bangsa.
"Saya kira, apa yang dilakukan Rizal Mallarangeng sudah tepat. Dia memang lebih baik mundur daripada membuang ongkos yang terlalu besar," katanya.
Burnap mengaku, tidak tahu dari mana asalnya orang seperti Rizal mengklaim bahwa dirinya mewakili kalangan muda untuk tampil sebagai capres dan menyosialisasikannya dengan iklan TV dan baliho dengan gencar.
"Harusnya dia tahu, untuk menjadi calon presiden di Indonesia ini harus didukung 20 persen kursi di parlemen dan 25 persen suara," ujarnya.
Menurut Burnap, mundurnya Rizal akan diikuti capres-capres lain yang tidak memiliki modal dukungan 20 persen kursi parlemen. Karena itu, tutur dia, pada Pilpres 2009, maksimal hanya ada dua calon, yakni pasangan SBY-JK dan Megawati dengan cawapresnya. "SBY dan Mega masih sangat kuat untuk bertarung dalam pilpres nanti," ucapnya.
Senada dengan Burnap, pengamat politik Arbi Sanit memuji sikap Rizal Mallarangeng yang berbesar hati mundur dari bursa capres. Rizal, ujar dia, tak mungkin bisa masuk jajaran capres 2009 karena dia tidak memiliki dukungan suara sesuai UU Pilpres.
"Baguslah dia mundur. Kalau kemarin kita lihat dia tidak tahu diri, sekarang saya melihat dia itu sudah tahu diri. Dan, itu harus diikuti oleh capres lain yang tidak punya modal dukungan," katanya.
Dengan mundurnya Rizal, tutur Arbi, maka calon-calon lainnya, baik muda maupun senior, akan berpikir ulang untuk mengajukan diri sebagai capres. Dengan demikian, hanya ada dua pasangan yang akan bertarung nanti, yakni SBY-JK dan Megawati beserta cawapresnya. "Untuk sekarang ini saya kira yang memiliki peluang besar hanyalah pasangan SBY-JK," ujar Arbi.
Seperti diketahui, Rizal Mallarangeng--yang akrab disapa Cheli--menyatakan mundur dari bursa bakal capres karena menyadari tingkat elektibilitasnya atau kemungkinan terpilih dalam pilpres jauh berada di bawah SBY dan JK.
"Saya akui bahwa saya belum mampu. Saya tidak malu mengakui kekalahan saya ini," kata Rizal ketika mengumumkan pengunduran dirinya dari bursa capres kepada pers di Jakarta, Rabu (19/11) malam.
Adik Andi Mallarangeng ini mengatakan, selama tiga bulan setengah ini, dia bersama tim suksesnya telah berusaha maksimal memopulerkan diri antara lain melalui kunjungan ke berbagai daerah serta melalui iklan di media massa.
"Tingkat popularitas saya semakin naik. Tapi tingkat elektibilitas belum bertambah secara signifikan," katanya sambil secara jantan mengakui bahwa dirinya masih belum bisa mengalahkan Susilo Bambang Yudhoyono yang masih menjadi presiden atau Jusuf Kalla yang kini wapres.
"Tingkat elektibilitas saya masih jauh di bawah Pak SBY," ujarnya.
Ia menyebutkan, pada Pilpres 2009, kemungkinan hanya akan ada tiga calon presiden dan cawapres. Meski demikian, ia tetap berencana akan maju lagi pada Pilpres 2014. "Saya lima tahun lagi akan berusaha mencoba," ucapnya.
Sebagai sesama capres muda, politisi Partai Golkar Yuddy Chrisnandi menyayangkan mundurnya Cheli. Menurut dia, hal tersebut akan mempersulit capres muda untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya perubahan dan kepemimpinan kaum muda.
"Tinggal dua tersisa, saya sama Fadjroel. Dengan mundurnya Cheli, tugas semakin berat untuk menyosialisasikan pentingnya perubahan," katanya.
Alasan tingkat elektibilitas Cheli yang rendah tidak bisa diterima Yuddy. Menurut dia, elektibilitas akan berjalan seiring dengan waktu.
"Elektibilitas yang rendah dan tidak adanya dukungan partai politik jangan jadi alasan untuk surut dari semangat berjuang untuk meyakinkan rakyat. Elektibilitas dan dukungan dari parpol memerlukan proses, kalau ditekuni terus, pasti akan didukung rakyat," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yuddy berpesan agar Cheli tidak menghambur-hamburkan uangnya untuk iklan.
"Jangan banyak mengeluarkan uang untuk iklan. Saya tidak punya iklan, tapi punya gagasan. Ini saya jadikan sebagai proses. Jadi presiden tidak mudah, apalagi bersaing dengan generasi tua, tapi proses harus dimulai. Tidak boleh menyerah," ujar Yuddy menyindir Cheli.
Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto bertemu Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Keduanya saling memuji dan cocok menjadi calon presiden.
Pertemuan Prabowo Subianto dengan Din Syamsuddin berlangsung di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta, Kamis (20/11) pukul 09.40 WIB. "Saya mengucapkan selamat kepada Gerindra, popularitasnya semakin naik. Saya doakan Pak Prabowo jadi capres dan mudah-mudahan jadi kenyataan," kata Din, usai pertemuan dengan Prabowo selama satu setengah jam itu. (ssko)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih