-JAKARTA — Kenaikan elektabilitas sekitar 2-3 persen pasangan JK-Wiranto mengambil suara pasangan SBY-Boediono. Berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), JK-Wiranto memperoleh 9 persen atau naik dibandingkan survei terakhir pada akhir Mei.
Pasangan SBY-Boediono elektabilitasnya masih di posisi puncak, 67 persen, meskipun turun 3 persen dari survei sebelumnya (70 persen). Hal itu dikatakan peneliti senior LSI, Burhanuddin Muhtadi, sebelum jumpa pers hasil survei, Rabu (24/6) di Jakarta.
Burhanuddin mengatakan, kenaikan elektabilitas JK-Wiranto terjadi di daerah perkotaan. "Kenaikannya terutama di daerah perkotaan, seperti di DKI Jakarta. Kenaikan elektoral JK-Wiranto diambil dari SBY-Boediono," kata Burhanuddin.
Namun, kenaikan ini, menurutnya, terjadi secara linier, bukan eksponen. Artinya, Burhan menyebut, kenaikannya berupa "petasan" dan bukan "ledakan". "Kalau ingin mendapatkan ledakan kenaikan elektoral, JK-Wiranto harus melakukan upaya secara masif, tidak hanya di kota yang pemilihnya rasional. Lakukan terobosan luar biasa untuk menarik pemilih nonrasional di pedesaan," tuturnya.
Sementara itu, pasangan Mega-Prabowo yang stagnan di tingkat elektabilitas 16 persen, menurutnya, harus menggenjot lebih keras kerja tim suksesnya. Jika JK-Wiranto mengalami kenaikan linier dan Mega-Prabowo stagnan, tidak akan bisa mengurangi elektabilitas SBY-Boediono secara signifikan. "Kalau mau mengambil elektabilitas SBY-Boediono secara signifikan, JK-Wiranto dan Mega-Prabowo harus naik secara eksponensial," ujar Burhanuddin. (sihc/skoc)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih