-JAKARTA - Ada yang membedakan calon presiden (capres) Jusuf Kalla dengan dua capres lainnya. Jika kedua capres itu 'gemar' memakai podium saat menggelar kampanye dialogis dengan pendukungnya, beda halnya dengan JK. Lelaki kelahiran Watampone, Sulsel, ini lebih senang leluasa berjalan di atas panggung.
Di kota mana pun JK berkampanye, setting panggung tak pernah menyediakan podium. Bahkan panggung diset supaya JK nyaman berjalan hingga mendekat ke penonton.
"Iya, saya lebih senang bicara kalau tidak dibatasi podium," ujar JK beberapa waktu lalu saat ditanyai wartawan tentang kebiasaannya berjalan di panggung.
Ada beberapa penataan panggung yang diatur untuk JK jika kampanye. Terkadang panggung berada di tengah. Sementara tempat duduk audiens mengelilingi panggung.
Saat kampanye di kawasan industri Cilincing, Jakarta Timur (Jaktim), pada Minggu (14/6/2009) misalnya, JK kampanye dikelilingi puluhan alat berat seperti crane dan bekho. Dalam kampanye yang dimotori ketua Masyarakat Peduli Sesama (MPS) Edi Joenardi ini, JK berdialog dengan warga yang terdiri dari buruh, pedagang, guru, tukang ojek, dan masyarakat lapis bawah lainnya yang duduk mengelilingi panggung.
Selain panggung di tengah, kadangkala panggung juga tetap berada di depan, namun ada bagian panggung yang menjorok hingga ke penonton. Jadinya, JK terkadang bisa mendekati penonton tanpa harus turun dari panggung.
"Pak JK itu raja di atas panggung. Kesuksesannya di atas panggung karena dia relaks dan ceplas ceplos," kata Mathias, salah seorang relawan pendukung JK-Wiranto saat kampanye di Papua.
Gaya pidato JK yang lepas inilah yang membuat suasana kampanyenya selalu berlangsung riuh. Dialog-dialog yang spontan kadang membuat warga terpingkal.
Selama dua minggu kampanye terbuka, keluhan warga terhadap JK bukan hanya menyangkut persoalan-persoalan besar saja. Mulai dari kasus yang menimpa artis Cici Paramida, hingga mengeluh terlilit utang karena kesulitan mendapat pekerjaan.
"Dulu saya tidak suka Pak JK karena ceplas ceplos, tapi setelah saya lihat visi misinya, saya pun pilih JK=Wiranto," ujar Toni, saat berbincang langsung dengan JK saat kampanye di Solo, Minggu (21/6/2009).
Hal lain yang berbeda dari lelaki yang punya 5 anak ini adalah gayanya yang tak kaku di atas panggung. Saat berbicara, JK kadang terhenti oleh teriakan-teriakan warga. Menko Kesra era Megawati ini memang terbilang 'peka' meski saat berpidato sekali pun. Hal-hal kecil yang diteriakkan warga, kerap ditanggapi dengan lelucon. JK tak segan menghentikan pidatonya dan menimpali ucapan warga.
Jika telah 'on' di atas panggung, tanpa moderator pun JK langsung mengambil alih dan mendekati para penanya yang ingin bertanya. "Semakin tajam pertanyaan, semakin saya suka. Malah semakin keluar kemampuan saya. Kalau pertanyaannya tidak tajam, kurang tertantang," terang JK saat berbincang dengan wartawan. (sihc/sdtc)
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih