-JAKARTA - Sekretaris Umum Tim Kampanye Nasional Capres Megawati-Prabowo (Mega-Pro), Fadli Zon mengatakan, banyak di antara lembaga survei yang ada saat ini tidak independen, sehingga menjadi alat kampanye. "Lembaga survei saat ini banyak yang mengalami `conflict of interest`, apalagi kalau survei itu merupakan pesanan dari salah satu kandidat," kata Fadli Zon usai acara peluncuran mobil kampanye di kediaman Megawati Soekarnoputri Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Kamis.
Menurut dia, seharusnya lembaga survei dapat menciptakan iklim demokrasi yang dewasa karena jika dilihat hasil survei yang ada saat ini, maka sama sekali tidak menunjukkan adanya independensi.
"Kita lihat saja antara hasil survei LSI, PL3S (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) dengan LRI perbedaannya cukup jauh," katanya.
Selain itu, kata Fadli Zon, jika masing-masing kandidat mengacu pada hasil survei yang ada, maka pihaknya juga mempunyai hasil survei dari Lingkaran Survei Rakyat yang menyebutkan perolehan elektabilitas (tingkat keterpilihan) Mega-Pro sebanyak 89 persen, JK-Win 10 persen dan SBY-Boediono 1 persen.
Fadli juga mencontohkan bahwa di Amerika setiap tim sukses kandidat capres memiliki lembaga survei, namun hasil survei yang didapatkan hanya untuk kepentingan internal seperti strategi, intervensi, dan lainnya.
"Tapi yang memplubikasikan adalah lembaga survei yang independen," ujar Fadli Zon.
Untuk itu, kata dia, seharusnya lembaga survei di Indonesia mempunyai etika ilmiah untuk itu. Apabila surveinya itu pesanan, lanjut dia, sebaiknya jangan disiarkan karena jika itu dilakukan sama saja lembaga survei akan menjadi alat kampanye.
"Akhirnya lembaga survei itu tidak ada bedanya dengan spanduk, baliho atau kampanye di TV," katanya.
Taufik: Saya Percaya Dua Putaran!
JAKARTA - Menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia yang menyebutkan bahwa Pilpres 2009 akan berlangsung satu putaran dengan elektabilitas pasangan SBY-Boediono mencapai 63,1 persen, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufik Kiemas (TK) menyatakan ketidaksepakatannya.
"Kalau saya percaya dua putaran," kata Taufik yang ditemui di tengah Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) PKB pro Gus Dur di Hotel Acacia Jakarta, Kamis (11/6).
Lebih lanjut TK, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa yang mestinya menilai satu putaran atau dua putaran adalah rakyat, bukan lembaga survei.
Menurut Taufik, mantan presiden (Alm) Soeharto saja paling tinggi memperoleh suara 65 persen. "Itu aja sudah pake tentara, pake Golkar, dan segala macem," ungkapnya.
TK datang ke Muspimnas PKB pro Gus Dur untuk silaturahim. "Gus Dur itu sahabat saya, kakak saya," katanya.
Mengada-ada
Juru Bicara Tim sukses JK-Wiranto, Drajat Wibowo menilai usulan pelaksanaan pemilihan presiden agar satu putaran saja dengan alasan penghematan biaya merupakan alasan yang tidak masuk akal dan mengada-ada.
"Alasan penghematan anggaran itu alasan yang mengada-ada," Kata Drajad Wibowo disela-sela kampanye terbuka di lapangan Karebosi Makasar, Sulsel, Kamis.
Menurut Drajad, jika memang alasannya untuk penghematan biaya hal itu bisa dilakukan dengan efisiensi di BUMN-BUMN.
"Ini salah kaprah kalau ada pihak yang mengusulkan satu putaran saja. Biarlah rakyat yang menentukan, apakah dua putaran atau tidak," kata Drajad.
"Kalaupun Pilpres berlangsung dua putaran anggarannya juga sudah tersedia," katanya.
Menurut Drajat, hak demokrasi merupakan hak dasar rakyat. Karena itu, tambahnya, hak tersebut tak bisa dibatasi hanya dengan alasan penghematan.
Presiden Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) Ryaas Rasyid memberikan pendapat senada.
"Sekarang ini ada teror politik yang menyatakan seolah-olah Pilpres hanya berlangsung satu putaran. Itu teror politik yang kita harus lawan," Ryaas Rasyid.
Menurut dia, rakyat berhak penuh atas Pilpres berlangsung satu atau dua putaran.
Hanya Satu Putaran
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) di Jakarta, Kamis, mengumunkan hasil survei bahwa pemilihan presiden (pilpres) 8 Juli 2009 diprediksi berpotensi hanya berlangsung satu putaran, dengan perolehan suara dari responden pasangan SBY-Boediono mencapai 63,1 persen, pasangan Mega-Pro sebesar 16,4 persen dan pasangan JK-Win memperoleh 5,9 persen.
Hasil survei LSI yang ditandatangani direktur eksekutifnya Denny JA, menyebutkan, pilpres satu putaran didasarkan atas hasil survei terhadap 4.000 responden di tujuh provinsi di Indonesia pada 28 Mei-3 Juni 2009 dengan tingkat kesalahan 2,4 persen dan tingkat kepercayaan 99 persen.
Hasil survei dengan pertanyaan "Dari tiga pasangan capres yang akan maju nanti, pasangan mana yang akan ibu/bapak pilih?", jawabannya sebanyak 63,1 persen memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, 16,4 persen memilih pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto (Mega-Pro), 5,9 persen memilih pasangan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win), sedangkan 14,6 persen responden belum memutuskan.
Direktur Riset LSI Arman Salam yang membacakan hasil survei menegaskan, pemilihan responden yang dominan atau 63,1 persen kepada pasangan SBY-Boediono itu dengan pertanyaan pemilihan presiden/wapres dilaksanakan hari ini, sehingga masih ada waktu empat minggu bagi pasangan capres dapat memperbaikai peringakatnya jika ingin memenangkan pilpres 8 Juli 2009.
Arman menjelaskan, data survei itu jika dicoba dan dipilah ke segmentasi yang lebih detail, hasilnya cukup mengejutkan yakni SBY-Boediono unggul telak hampir di semua segmen dilihat dari jenis kelamin, agama, umur, suku, status ekonomi dan teritori para resonden.
"Satu-satunya yang bersaing adalah di wilayah Sulsel antara pasangan SBY-Boediono dan pasangan JK-Win," katanya menambahkan bahwa pasangan JK-Win di Sulsel mendapatkan 40,3 persen suara reponden, pasangan SBY-Boediono memperoleh 42,1 persen dan pasangan Mega-Pro hanya mendapatkan 1,2 persen, sedangkan 16,4 persen responden belum memutuskan pilihan.
Menurut Arman, tigal hal yang menyebabkan keunggulan capres SBY, faktor pertama personalitas yaitu figur disamping sangat dikenal (100 persen responden pemilih), tapi juga sangat disukai dan dianggap pantas menjadi pemimpin nasional (sekitar 90 persen responden).
Jusuf Kalla dan Megawati merupakan figur yang sangat dikenal (100 persen responden pemilih), namun dua tokoh ini bukan termasuk tokoh yang sangat disukai (tingkat kesukaan responden di bawah 60 persen) dan dua tokoh tersebut tingkat kepantasan sebagai pemimpin nasional hanya diplih oleh sekitar 56 persen reponden.
Faktor kedua adalah sentimen pemilih terhadap kondisi ekonomi yang tampaknya bisa diatasi figur SBY dengan aneka program populis. SBY telah mampu meberikan program Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sampai harga BBM yang diturunkan tiga kali.
"Persepsi bahwa kondisi ekonomi saat ini dipengaruhi oleh krisis dunia turut pula membuat pemilih tidak "mengasingkan" SBY," katanya.
Faktor ketiga adalah persepsi atas kinerja SBY yang umumnya publik merasa puas dengan semua kinerja SBY. "Yang tidak puas oleh responden adalah soal tenaga kerja dan harga sembako yang ketidakpuasan ini dapat tertutupi oleh isu lain seperti besarnya pesona pribadi SBY sendiri," kata Arman.
Dia mengatakan, LSI memprediksi bahwa pasangan SBY-Boediono potensial memenangkan pilpres pada satu putaran pada pilpres 8 Juli 2009 dengan formulasi bahwa tidak ada "blunder" yang besar di pihak pasangan SBY-Boediono, tidak ada program yang sangat luar biasa di pihak kompetitor dan tidak ada kejadian yang sangat luar biasa dalam empat minggu ke depan.
Arman menegaskan, survei LSI yang diumumkan saat ini adalah survei nasional yang merupakan bagian untuk informasi kepada publik yang biayanya diambilkan dari sebagian keuntungan LSI dan bukan dibiayai oleh pasangan capres tertentu. (sihc/skoc/saci) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih