-JAKARTA - Mengometari penganuregahan gelar Honoris Causa terhadap Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Selasa (16/6) siang in, Wakil Presiden M Jusuf Kalla menilai, AM fatawa adalah sosok politkus yang tidak mudah digertak. Meskipun ia harus menghadapi berbagai penahanan secara politik AM Fatwa terus memperjuangkan keyakinan politiknya.
Hal itu dilontarkan Wapres Kalla saat memberi sambutan seusai mengukuran Dr HC AM Fatwa di halam Kampus B Universitas Negeri Jakarta Rawamangun.
Dalam acara itu, hadir Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud Mensos Bachitiar Chamsah, Rektor UNJ Prof Dr Bedjo Sujanto, serta civitas acamedika UNJ.
"Jadi sebenarnya, kurang cocok kalau Pak Fatwa mendapat Dr HC di bidang pendidikan luar sekolah, yang cocok adalah pendidikan politik luar sekolah," tandas Kalla.
Sementara menurut Promotor Prof dr Dr HC Hafid Abbas, yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Hukum dan HAM, AM Fatwa memiliki jiwa besar yang mengingatkan kepada sosok Nelson Mandela saat melawan rezim apartheid di Afrika Selatan, meskipun dia sudah dipenjara belasan tahun di era Soeharto akibat perbedaan haluan politik, namun ia memiliki jiwa besar memaafkan mereka yang telah memenjarakannya.
"Perjuangan AM fatwa pada ranah keilmuan pendidikan luar sekolah mengingatkan juga kemiripan pada perjuangan dengan Paulo Freire di brazil pada tahun enampuluhan," sebutnya.
Seperti halnya AM Fatwa, sebut dia, Paulo juga aktif membina pendidikan luar sekolah melakukan pelatihan dan pemberdayaan masyrakat miskin. "Paulo yang ditangkap dan menjalani hukuman akhirnya dibebaskan dan diangkat menjadi menteri pendidikan. AM Fatwa juga membina taman kanak-kanak dan merintis yayasan pondok Karya pembanguan dengan dukungan mantan Gubernur DKI Ali Sadikin," tambahnya.
Adapan dalam pidatonya, AM Fatwa menekankan, moral dan etika politik di dalam aktifitas politik oleh elit politik. Dia mengingatkan sistem politik apapun bentuknya tidak akan optimal mencapi tujuan ideal juika persoalan mental tidak diutamakan. "Reformasi yang bergulir sejak 1998 hanya akan menjadi ekspresi politik tanpa batas yang mengeleminasi rasa simpati dan empati kepada rakyat," ujar Fatwa. (sihc/skoc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih