coia

Menu

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19
Anda memiliki kepedulian pada wartawan kami yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19)? Salurkan kepedulian dan kasih Anda dengan mengirimkan donasi ke * BANK BCA NO REKENING 2291569317 * BANK BNI NO REKENING 0428294880 * BANK BRI NO REKENING 0539-01-008410-50-1 Semoga Tuhan YME membalas dengan rezeki yang bertambah.

Pencarian

Minggu, 01 Februari 2009

Alumni ITB Pertanyakan Pemberian Doktor Kehormatan SBY

* PRESIDENTIAL *
-BANDUNG - Sebagian alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) mempertanyakan rencana pemberian gelar doktor honoris causa kepada Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Senat Guru Besar ITB dalam Dies Natalis pada 2 Maret 2009 karena tidak ada sumbangan keilmuan yang diberikan oleh Presiden RI itu.

Mantan mahasiswa dan aktivis ITB, Fadjroel Rahman kepada ANTARA di Bandung, Jumat menyatakan pemberian gelar menimbulkan cacat politik pada independensi ITB karena publik akan melihatnya sebagai bentuk dukungan kampus terhadap calon presiden mendatang.

"Saya menolak sekeras-kerasnya pemberian gelar doktor honoris causa ini. Apa kaitan SBY dengan keilmuan di ITB sehingga bisa mendapatkan gelar terhormat itu?" kata Fadjroel.

Ia mengatakan seseorang seharusnya bisa mendapatkan gelar itu karena keilmuannya namun gelar yang dimiliki SBY sama sekali tidak ada kaitannya dengan seluruh keilmuan yang ada di ITB.

"Sepertinya ada seseorang atau sekelompok orang yang sengaja mengaitkan jurusan keilmuan yang ada di ITB dengan SBY sehingga keputusan ini muncul," ujarnya.

Ia menuturkan Ir Sukarno mendapatkan doktor honoris causa dari ITB karena sumbangan keilmuan teknik sipilnya, terlebih latar belakangnya memang teknik sipil ITB, sedangkan Hamka memperoleh doktor honoris causas dari Al Azhar Mesir karena memang ia ilmu agama.

"Kasat mata saja tak ada kaitan keilmuan di ITB dg `ilmunya` SBY dan ini hanya petualangan politik saja," ujar Fadjroel.

Mantan alumni ITB lainnya, Adamsyah Wahab menyayangkan pemberian gelar doktor honoris causa kepada Yudhyono dan mensinyalir ada keinginan tertentu dari sejumlah pejabat ITB.

"Apa ada hubungannya keilmuan yang dimiliki SBY dengan ITB dan jawabannya tentu saja tidak karena ilmu pemberantasan korupsi tidak ada di kampus kami," katanya.

Adam menangkap ada rumor yang beredar di seputas isu itu yang menyebutkan pemberian gelar ini dilakukan hanya karena ada keinginan dari petinggi ITB untuk menjadi menteri jika Yudhoyono terpilih kembali.

"Kami sangat kecewa dengan keputusan ini, terlebih mendekati masa Pemilu 2009 sehingga kentara sekali pemberian ini bernuansa politis," katanya.

Alumni ITB lainnya, Aris Ariyanto mengaku terkejut mendengar kabar itu, "Jika memang yang menjadi pertimbangan adalah dia menjabat sebagai presiden, prestasi mana yang membuat menjadi pantas."

"Kalau prestasinya hanya menurunkan harga BBM apakah memang itu yang menjadi pertimbangan," katanya.

Ketiga alumni ITB dari angkatan yang berbeda tersebut meminta agar Senat Guru Besar membatalkan keputusan tersebut karena dinilai cacat politik dan cacat keilmuan bagi nama besar ITB sehingga akan merusak nama baik ITB.

Adamsyah yang duduk di kepengurusan Ikatan Alumni ITB bahkan berencana membuat petisi menyangkut rencana pemberian gelar doktor honoris causa kepada Yudhoyono ini. (sihc/saci)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih

BERKARYA UNTUK BANGSA & NEGARA

Situs KIta CInTA (Kita Cinta Tanah Air) Indonesia kami persembahkan untuk masyarakat Indonesia yang cinta tanah air dimana pun berada. Kami menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini. Baik itu tulisan maupun foto tentang pejabat partai, daerah, negara termasuk ativitas partai, pemerintahan mulai dari Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Juga segala kegiatan yang berkaitan dengan kenegaraan. Caranya, kirim karya tulis atau foto Anda ke e-mail: aagwaa@yahoo.com.

Komentar Anda