-JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan agar semua calon pemimpin menjelaskan permasalahan sebenarnya pada saat berkampanye, tidak mengumbar janji-janji semu.
"Seolah-olah semua akan baik-baik saja, itu tidak boleh," kata Presiden Yudhoyono dalam acara panen raya di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu, (12/11).
Masyarakat Indonesia, menurut Presiden Yudhoyono, saat ini sudah cerdas untuk memilih siapa pemimpinnya. Masyarakat sudah bisa memilih program mana yang masuk akal atau hanya sekadar janji-janji. Karena itu, Yudhoyono mengajak para calon pemimpin agar menggunakan etika berdemokrasi dengan baik, yakni demokrasi yang berakhlak.
Dalam kunjungannya ke berbagai daerah dan beberapa kesempatan, Presiden Yudhoyono selalu mengatakan hal yang sama ke masyarakat. Yudhoyono mengharapkan agar para calon pemimpin itu tidak mengumbar janji semu.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman mengatakan, syarat calon presiden tak hanya berkemampuan menghimpun dana saja, tapi juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan massa, dan harus benar-benar memahami konstituennya.
"Dengan kepekaan sosial, kampanye bisa low cost tapi high impact," katanya sambil menegaskan bahwa partai hanya instrumen, pilihan masyarakat tetap pada figur.
Sementara itu, calon presiden (capres) Sutiyoso berharap, seluruh pimpinan partai politik (parpol) peserta Pemilu 2009 agar lebih cerdas dan selektif dalam menentukan pilihan terhadap para calon presiden yang mereka usung.
Ini, kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu, karena bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah besar, baik ekonomi, politik, hukum maupun masalah lainnya. "Bangsa ini sesungguhnya sedang menghadapi masalah besar dan masalah itu tidak mungkin diselesaikan hanya oleh orang-orang yang memiliki reputasi dan pengalaman yang sangat standar. Karena itu, parpol sebagai salah satu institusi yang punya wewenang untuk rekrutmen capres diharapkan lebih cerdas dan selektif dalam menentukan jagoannya" ujar Sutiyoso, di Jakarta, Rabu (12/11).
Menurut Sutiyoso, untuk jadi pemimpin, yang lebih diperlukan adalah praktik untuk mengurus bangsa dan negara ke depan. "Jadi ini bukan soal penguasaan berbagai teori dalam menyelesaikan masalah bangsa, karena dalam banyak kasus sebuah teori akan efektif untuk satu atau dua kasus saja," katanya menegaskan.
Secara empirik, lanjutnya, pengalaman dan keseringan dalam menghadapi berbagai masalah dan kesulitan masyarakat jauh akan lebih efektif ketimbang berteori-teori. "Dengan asumsi yang riil dan konkret itulah saya menginginkan kiranya parpol juga realistis dalam memproses para kandidat capres dan cawapres agar Pemilu 2009 mendatang secara objektif bisa memilih yang terbaik diantara yang baik," katanya.
Sutiyoso menegaskan, optimismenya untuk menghadapi Pilpres 2009 mendatang bukan didasari sahwat politik untuk kekuasaan. "Secara pribadi, saya sudah punya modal berupa pengalaman memimpin Ibu Kota Jakarta selama 10 tahun. Memimpin Jakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia di masa-masa transisi bukanlah hal yang sederhana," ujarnya.
Sementara itu, DPP PDIP tampaknya mulai menghitung-hitung kemungkinan lawan berat Megawati dalam Pilpres 2009. Selain SBY dan Sultan, PDIP juga memperhitungkan Wiranto dan Prabowo sebagai saingan terberat Mega.
"Kami sedang membuat skenario calon presiden yang akan bertarung di Pilpres 2009," kata Ketua Bappilu DPP PDIP Tjahjo Kumolo di acara Pengarahan Jurkamnas PDIP di Jakarta, Rabu (12/11).
Menurut Tjahyo, berdasarkan RUU Pilpres yang sudah disahkan DPR, PDIP membuat tiga skenario. Skenario pertama, ada dua calon. Pertama SBY dengan Mega. Skenario kedua SBY, Mega, dan Sultan. Skenario 3 SBY, Mega, Sultan, dan calon alternatif, di antaranya Prabowo dan Wiranto.
Mengenai cawapres pendamping Mega, PDIP belum menentukan. Menurut dia, siapa calon pendamping Mega akan diumumkan pada Januari 2009, berbarengan dengan koalisi.
PDIP sendiri, kata Tjahyo, baru akan mengumumkan calon presidennya pada Desember yang akan datang. Sementara siapa cawapresnya, PDIP masih belum menentukan siapa calon pendamping Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009.
Tjahyo menolak menjelaskan, siapa yang bakal mendampingi Megawati dalam pemilihan presiden tahun depan. Namun, dia menjelaskan bahwa DPP PDIP telah mengamati 12 tokoh yang nanti akan dicalonkan menjadi cawapres.
Disinggung mengenai ke-12 tokoh tersebut, ia hanya menyebutkan beberapa sosok di antaranya, yakni Sultan Hamengku Buwono X dan Hidayat Nur Wahid.
Pemilihan kandidat wakil presiden, katanya, tidak bisa dilakukan dengan gegabah, harus dengan seleksi yang ketat. Masalah ini akan dibahas secara serius di internal partai, agar kelak PDIP bisa benar-benar secara tepat memilih sosok wakil presiden yang punya kapasitas dan kredibel.
"Tentunya kami memandang sosok yang memiliki komitmen dan sanggup mengemban penderitaan rakyat selama ini," katanya. (ssko) ***
seorang pemimpin yang bukan omong kosong di mulut saja dan menebar janji-janji manis yang tidak sesuai dengan fakta.seruan kami hanyalah "sejahterakan rakyat indonesia......."
BalasHapus