-JAKARTA - Konsep ekonomi Kebangsaan yang mandiri yang ditawarkan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dinilai berada ditengah-tengah antara konsep ekonomi SBY-Boediono dan Megawati-Prabowo. "Masing-masing memiliki perbedaan pemikiran ekonomi," kata Fadli Hasan, pengamat ekomomi INDEF dalam diskusi di Chemistry Media Centre di Jakarta, Senin (25/5).
Menurut dia, perbedaan paling nyata adalah konsep ekonomi yang diusung SBY-Boediono dengan Megawati-Prabowo di mana SBY-Boediono lebih berdasar pada pasar sedangkan Mega-Pro lebih menitikberatkan peran pemerintah. "Peran pemerintah dalam konsep SBY tidak sebesar dalam konsep Mega,"katanya.
Sedangkan konsep ekonomi dari Jk-Wiranto, kata Fadli, berada ditengah yang tidak antipasar tetapi tetap mengharapkan pentingnya peran pemerintah dalam mengatur ekonomi. "SBY lebih besar pada pasar dan Mega sebaliknya. Sedangkan JK ditengah-tengah," ucapnya.
Tentang maraknya anggapan bahwa Boediono lebih menganut faham Neo Liberalisme, Fadli berpendapat, hal itu karena latar belakang Boediono yang pernah menjalankan agenda-agenda Neo Liberalisme. "Privatisasi, liberalisasi, deregulasi pernah dilakukan Boediono selama dia menjabat sebagai kepala Bapenas, Menkoprekonomian, Menteri Keuangan sehingga memunculkan anggapan tersebut," katanya.
Fadli juga mempertanyakan konsep ekonomi kerakyatan yang digaungkan oleh Pasangan Mega-Pro. Menurutnya, hal itu harus dijelaskan karena konsep tersebut memerlukan peran pemerintah yang sangat besar dalam mengatur alokasi sumber daya.
"Itu kan memerlukan anggaran besar. Realistis gak pemerintah melakukan intervensi yang terlalu dalam sementara anggaran yang dimiliki masih terbatas. Kecuali mereka memiliki konsep-konsep untuk mengatasi persoalan-persoalan seputar anggaran," ucap Fadli. (sihc/skoc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih