-
JAKARTA - Pengamat politik Bima Aria menilai pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2009 tidak akan memunculkan kandidat alternatif yang mampu membawa perubahan besar. Penetapan syarat dukungan minimal 20 persen kursi atau 25 persen suara dinilai mematikan kemungkinan lahirnya kandidat selain berasal dari partai politik besar. "Kalau sistemnya tidak mendukung, sulit mengharapkan lahirnya pemimpin berkualitas," katanya dalam diskusi Presiden Harapan dan Harapan Terhadap Presiden di Jakarta Media Center, Selasa (25/11).
Regulasi yang membatasi lahirnya kandidat presiden baru, menurut dia, bertolak belakang dengan keinginan masyarakat. Sebuah survei, kata Aria, menyebutkan mayoritas pemuda tak bangga menjadi orang Indonesia. Aria menambahkan, mayoritas responden menganggap tak ada pemimpin yang membanggakan.
Selain itu, Aria menambahkan, masyarakat juga kecewa atas sikap pemerintah yang tak lagi independen. Rakyat rindu pada pemimpin yang kuat yang tidak takut pada asing. Seharusnya, kata dia, dalam pemilu nanti menjadi momentum lahirnya pemimpin alternatif. "Politisi di sini berbusa bicara mapping tapi tak mampu menjelaskan langkah-langkah yang harus diambil," kata Aria.
Hal senada diungkapkan pengamat poitik Yudy Latif. Kandidat presiden, kata Yudy, harus punya program kerja yang jelas. "Tidak mungkin semua bisa diselesaikan dalam waktu lima tahun," katanya. Program kerja tersebut, Yudy menambahkan, harus dipaparkan sejak awal sebelum pemilihan. "Agar rakyat tahu mau dibawa kemana Republik ini," kata Yudy. (sihc/stic) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih