coia

Menu

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19

Peduli Wartawan Terdampak Covid-19
Anda memiliki kepedulian pada wartawan kami yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19)? Salurkan kepedulian dan kasih Anda dengan mengirimkan donasi ke * BANK BCA NO REKENING 2291569317 * BANK BNI NO REKENING 0428294880 * BANK BRI NO REKENING 0539-01-008410-50-1 Semoga Tuhan YME membalas dengan rezeki yang bertambah.

Pencarian

Minggu, 01 Februari 2009

Sultan Sebaiknya Tetap Jadi Capres Bukan Cawapres

* PRESIDENTIAL *
-YOGYAKARTA - Deklarasi Sultan Hamengku Buwono (HB) X pada 28 Oktober 2008 yang menyatakan siap maju menjadi calon presiden (capres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2009 bisa ditangkap sebagai "sabda pendita ratu".

"Sebagai sabda yang diucapkan raja, memang tidak boleh berubah-ubah. 'Tan kena wola-wali', artinya jika sabda itu untuk presiden, mengapa harus berubah menjadi wakil presiden," kata Arwan Tuti Artha, penulis buku "Laku Spiritual Sultan: Langkah Raja Jawa Menuju Istana", di Yogyakarta, Sabtu.

Keputusannya mendeklarasikan diri sebagai capres dilakukan setelah suami Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas itu menempuh laku spiritual.

"Pernyataan itu saya tangkap sebagai 'sabda pendita ratu'. Sebagai sabda yang diucapkan raja, tidak boleh berubah-ubah. Kalau sabda itu untuk presiden, kenapa harus menjadi wapres," ujarnya.

Ia mengatakan, rakyat Yogyakarta sampai kini masih mempercayai Sultan HB X sebagai raja, panutan dan pewaris tahta yang tidak bisa dipengaruhi oleh suara yang datang dari mana saja.

Pencalonannya memang mengundang reaksi beragam. Dalam jajak pendapat ada sejumlah reaksi, di antaranya menolak Sultan HB X sebagai presiden karena dinilai lebih baik menjadi raja atau menjaga Yogyakarta agar tetap menjadi daerah istimewa.

"Reaksi lain adalah mendukung Sultan HB X menjadi presiden dengan pertimbangan dia bersih, jujur dan mampu atau setidaknya sudah memiliki pengalaman memimpin dengan tenang, kharismatik dan tak ada gejolak," katanya.

Dalam jagad spiritual, menurut Arwan, ada tanda-tanda yang sudah dibaca dan dipercayai sebagian orang, yaitu terawang spiritual meneguhkan jika "tusuk konde" yang dulu mengangkat Soeharto menjadi presiden, kini berada di Keraton Yogyakarta.

"Ini memang hanya sebuah terawang spiritual sehingga kita harus memahaminya secara arif. 'Tusuk konde' itu semula dikenakan Bu Tien Soeharto, yang kemudian menghilang ketika dia wafat, dan berlanjut lengsernya Soeharto. Jika sekarang sudah ditemukan dan bersemayam di keraton, tentunya tanda-tanda itu sudah bisa dibaca," katanya.

Mengenai buku yang ditulisnya, ia mengatakan sampai kini belum banyak buku tentang Sultan HB X yang ditulis orang, padahal dia menjadi Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sudah cukup lama.

"Sultan HB X hanya dikenang, tetapi tidak dibaca kearifannya, kekuatan spiritualnya, dan riwayat dirinya melalui buku," kata Arwan yang juga wartawan Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Selain menulis buku tersebut, Arwan Tuti Artha sebelumnya juga menulis buku tentang keluarga mantan Presiden Soeharto, antara lain "Bu Tien, Wangsit Keprabon Soeharto", "Dunia Spiritual Soeharto". (sihc/saci) ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih

BERKARYA UNTUK BANGSA & NEGARA

Situs KIta CInTA (Kita Cinta Tanah Air) Indonesia kami persembahkan untuk masyarakat Indonesia yang cinta tanah air dimana pun berada. Kami menantikan karya Anda untuk mengisi konten di situs ini. Baik itu tulisan maupun foto tentang pejabat partai, daerah, negara termasuk ativitas partai, pemerintahan mulai dari Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi dan Pusat. Juga segala kegiatan yang berkaitan dengan kenegaraan. Caranya, kirim karya tulis atau foto Anda ke e-mail: aagwaa@yahoo.com.

Komentar Anda