Senin, 02 Februari 2009

Pamor Politik Sri Sultan Naik Kalau Dizalimi Golkar

* PRESIDENTIAL *
-KUPANG - Pamor politik Sri Sultan Hamengku Buwono X akan naik, jika Partai Golongan Karya (Golkar) menzaliminya dengan memberikan teguran atau sanksi, karena jika diperlakukan demikian, maka simpati publik akan muncul, seperti ketika Presiden Megawati memperlakukan Susilo Bambang Yudhoyono empat tahun silam.

Pengamat politik dari Unika Widya Mandira (Unwira) Kupang, Drs. Mikael Tommy Susu, MSi, di Kupang, Senin, mengatakan, posisi Sri Sultan saat ini tampaknya dibutuhkan partai-partai politik besar. Hal ini, terlihat dari kehadirannya dalam acara PDIP dan pernyataan fungsionaris Golkar, soal Sultan sebagai kader partai.

"SBY mendapat simpati publik yang luar biasa ketika Megawati Soekarnoputri menjadi presiden tidak mengundang SBY sebagai menteri kabinet untuk mengikuti sejumlah rapat di istana presiden,"kata dosen FISIP Unika Kupang itu dan menambahkan, ternyata rakyat kemudian lebih memilih SBY menjadi presiden 2004-2009.

Tommy mengatakan, pernyataan fungsionaris DPP Golkar, Agung Laksono, bahwa Sri Sultan belum dipaketkan secara permanen dengan Megawati Soekarnoputri, sebagai calon wakil presiden dan calon presiden dari PDIP bisa menjernihkan pemahaman publik, bahkan bisa menguntungkan Golkar.

Sebelumnya, ketika fungsionaris DPP Golkar, Muladi, mengatakan, Sri Sultan bisa terkena sanksi partai, muncul banyak pendapat bernada protes karena membandingkan dengan Jusuf Kalla (saat ini Ketua Umum DPP Golkar) menjadi Wakil Presiden tidak melalui Golkar tetapi melalui Partai Demokrat, namun tidak diberi sanksi.

Sri Sultan pun, lanjut dia, secara diplomatis menyatakan, tidak pernah membawa-bawa nama dan atribut Partai Golkar dalam membangun komunikasi politik dengan sejumlah pihak.

Tommy mengatakan, hingga pekan pertama bulan Februari ini, fokus perhatian publik masih terarah pada dua kubu politik yang mulai secara terbuka melakukan perang urat syaraf, yakni kubu PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri dan kubu Partai Demokrat yang menjagokan SBY pada Pemilu Presiden Juni mendatang.

Menurutnya, akan sangat bagus, kalau ada kekuatan tengah (poros tengah) yang muncul dengan figur atau tokoh baru sebagai alternatif, apalagi kalau berasal dari kaum muda sebagai kelompok pendobrak kemapanan politik yang kini secara terbuka diwakili oleh SBY dan Megawati, selain beberapa tokoh lain seperti Sri Sultan, Jusuf Kalla dan Surya Palloh.

Kelompok pendobrak ini, lanjut dia, bisa mengelola konflik di antara kekuatan mapan untuk meraih simpati, apalagi kalau menghembuskan program yang lebih nyata tetapi lolos dari perhatian kekuatan yang pernah dan sedang berkuasa. (sihc/saci)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih