-JAKARTA - Idealnya media massa berperan sebagai anjing yang mengawasi kinerja legislatif, yudikatif dan eksekutif. Tapi kecenderungannya anjing pengawas itu berubah wujud menjadi anjing penjaga kepentingan bahkan anjing peliharaan pemodal atau penguasa.
Demikian tutur Amien Rais dalam diskusi 'Media Massa dan Pemilu 2009' di Wisma Antara, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2008).
"Kalau kita bicara di AS, watch dog itu tinggal kenangan manis masa lalu. Statusnya turun menjadi guard dog atau anjing penjaga. Bahkan jadi circus dog, bisa menari-nari jungkir balik menghibur," ujar dia.
Bila tidak teguh menjaga indenpendensi dan netralias, media massa di Indonesia juga bisa bernasib sama dengan sejawatnya di AS. Sebagai circus dog, media massa tidak bisa secara kritis mengawasi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Di masa-masa menjelang Pemilu dan Pilpres 2009, kondisinya bisa lebih parah lagi. Media massa yang punya peran vital dalam mensosialisasikan para kandidat, salah-salah menjadi anjing peliharaan yang lucu, manis dan penurut bisa dielus-elus pemilik modal atau kelompok politik di belakangnya.
"Itu kalau media malah ikut-ikutan jadi bagian dari kolusi itu," ujar pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Sementara Ketua Umum DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto dalam sesi yang sama mengatakan media dalam menghadapi pemilu sekarang berada dalam persimpangan. Yaitu sebagai agen perubahan, netralitas, profit oriented dan alat partai politik.
"Cilakanya, kalau ada media yang profit oriented atau hanya mencari untung, perubahan tidak mungkin terjadi. Indonesia akan tetap melarat. Kalau media sebagai alat parpol sih itu cuma game saja. Jalan simpang ini yang dihadapi media massa Indonesia pada tahun-tahun mendatang," jelas mantan Menhankam Pangab ABRI ini. (sihc/sdtc) ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tuangkan ide, saran, masukan, kritik Anda di sini untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera. Bebas dan demokratis. Tapi jangan spam dong... Terimakasih